Bag-7, Totalitas Berbakti

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Ketujuh

Totalitas Berbakti

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

Mau jadi seperti apakah kita? Berbakti? Gabungan keduanya, atau durhaka saja dulu? Semuanya sekaligus tentu tidak bisa. Ada perkataan bijak, “you can’t eat the cakes and have them too”. Tidak bisa kita berharap memakan habis kue sekaligus ingin menyimpannya. Dalam banyak hal hidup ini harus total. Bukan berbakti jika kita masih melaksanakan kedurhakaan. Sementara jalan untuk berbakti dengan total adalah: Bergaul dengan cara terbaik (1), Berkata penuh hormat (2), Rendah hati (3), Memberikan nafkah (4), dan Mendo’akannya (5).

Penjelasan lebih rinci-nya adalah sebagai berikut.

Pertama, bergaul kepada keduanya dengan cara terbaik.

Di dalam bahasa sederhananya, memberikan kegembiraan kepada mereka. Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami senantiasa berbuat baik kepada istri, maka kepada kedua orang tua harus lebih daripada istri, terutama kepada ibu. Sebab ibu-lah yang melahirkan, mengajar, mendidik dan bersama bapak memberikan begitu banyak jasa kepada anak.

Perbuatan baik diantaranya meminta izin, dari mulai memasuki kamar orang tua, hingga meminta izin untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat penting dan berpotensi mengancam bahaya. Misalnya, seorang anggota tim kesehatan yang menerima tugas untuk dinas di daerah konflik. Maka sebagai bagian dari rasa hormat dan sayang, sang anak harus meminta izin, sebab jika nyawa sang anak hilang maka orang tua-lah pihak pertama yang seharusnya sudah siap secara mental.

Tidak boleh bagi anak yang mendapatkan tugas bahaya, berangkat tanpa izin orang tuanya. Apalagi membuat keduanya sangat khawatir dan menangis karena sang anak memaksa tetap jalan dan menghiraukan himbauan orang tuanya. Anak tidak boleh egois, sebab bagi ibu bapak, nyawa anak sudah seperti nyawa mereka sendiri. Kita lahir dari gen ibu-bapak kita. Tentu saja, jalan terbaiknya jika memang sang anak ingin melakukan sesuatu tanpa ada hambatan perizinan adalah keterbukaan dan baiknya komunikasi terhadap kedua orang tua. Tentu saja ada pengecualian dalam kasus-kasus darurat, misalnya kondisi darurat perang, dan kasus lain yang serupa.

Kemudian termasuk pula perbuatan baik adalah bertemu, menjemput atau menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Misalnya, dalam momen pertemuan setelah terpisah beberapa waktu. Bagi anak yang sudah berkeluarga dan tinggal di tempat yang terpisah, tentulah waktu bertemu adalah kesempatan untuk menghadirkan wajah sambutan suka-cita, terutama sekali saat pertama kali bertemu. Baik mereka yang bertemu setiap pekan, setiap bulan atau tahunan. Apalagi mereka yang dinas jauh di luar negeri misalnya, hendaknya sarana berkirim surat atau komunikasi via telpon dijadikan kesempatan yang baik.

Kedua, berkata kepada keduanya dengan penuh hormat.

“Bahasa menunjukkan budaya”, maka tak heran kearifan Indonesia juga menghimpun banyak pesan mengenai urgensi menjaga lisan. Mulai dari budaya yang mengapresiasi seseorang yang berhasil menempuh kerja keras mengendalikan lisannya. “Na uli do halak na roa, pinandenggan ni pangkulingna”, buruk rupa terlihat cantik karena tutur kata. Hingga kearifan yang mengatakan “nilai diri seseorang tergantung pada gerak lidahnya”, ajining dhiri saka kedhaling lathi.

Apalagi berbicara dengan kedua orang tua, sangat berbeda dengan berbicara dengan anak, teman, atau dengan orang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia, tidak boleh mengatakan “ah” apalagi mencemooh, mencaci maki atau melaknat keduanya.

Termasuk jika keduanya berbuat jahat kepada kita atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua kita. Termasuk jika orang tua memukul kita atau keduanya belum memenuhi apa yang kita minta. Misalnya tidak membelikan sepatu baru sebagai ganti sepatu kita yang tak lagi bisa dipakai, tidak membantu biaya sekolah walau mereka memiliki uang, kita sebagai anak tetap tidak boleh berlaku durhaka kepada keduanya.

Ketiga, rendah hati.

Kesombongan adalah “sarung” Tuhan. Hanyalah Tuhan yang berhak untuk sombong. Sementara kesuksesan manusia sekedar perhiasan atau pernak-pernik yang tidak boleh melenakan kita. Setiap anak lahir dalam keadaan butuh pertolongan dan kedua orang tua kitalah yang menolong kita dengan memberi makan, minum, pakaian dan semua yang mereka bisa berikan. Segala kesuksesan kita tidak akan pernah terjadi kecuali karena bantuan orang tua kita di masa-masa kita lemah tersebut.

Seandainya kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang dianggap ringan dan merendahkan kita. Sesuatu yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita, namun bukanpula sesuatu yang dilarang oleh agama dan peraturan negara. Maka lakukanlah dengan senang hati, karena hal tersebut tidakk akan menurunkan derajat kita, sebab yang menyuruh adalah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selama keduanya masih hidup.

Categories: Uncategorized

Bag-6, Dengan Apa Membalas?

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Keenam

Dengan Apa Membalas?

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

“ribuan kilo jarak yang kau tempuh.

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan.

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara, kasih yang engkau berikan.

Tak mampu ku membalas….

Ibu…”

“ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu.

Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku.

Dengan apa membalas….?

Ibu…”

Bukankah lirik tersebut membuat kita sadar, bahwa kasih ibu takkan terbalas? Apapun pemaknaan lain kita terhadap liriknya, memang semakin kita mengingat pengurbanan ibu, maka semakin “putus asa” kita untuk membalasnya.

Ada peribahasa “kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah”. Apa yang bisa anak lakukan adalah seoptimal mungkin melakukan kebaikan kepada ibunya. Berupaya menunjukkan kasih sayangnya pada ibu. Meski sadar tidak akan bisa melebihi kasih apa yang telah diberikan ibu terhadapnya.

Pangkuan Ibu Sepanjang Masa

Kasih ibu yang sepanjang masa juga terbukti bagi diri anak yang tetap saja membutuhkan pangkuannya. Bahkan di usia dewasanya, ditengah kegagahannya mengasihi ibunya, tetap saja dalam masa-masa tertentu sang anak masih membutuhkan ibunya sebagai tempat menangis dan beristirahat. Sedewasa apapun anak, sekian bulan di dalam kandungan, membuatnya fitrahnya nyaman dan membutuhkan ibu nya. Bukan untuk menjadikannya sebagai “anak mami” yang manja, namun menjadikannya lebih meningkatkan rasa syukur dan baktinya pada ibu.

Ibuku, Wanita Karir

Bagi sebagian kita yang merasakan bagaimana sosok ibu yang juga wanita karir, tentu seharusnya membuat kita lebih appreciate kepada ibu. Ibu turut “membanting tulang” memenuhi kebutuhan keluarga, di era dengan tuntutan hidup yang kian meningkat. Sebagian mereka mungkin merasakan ini ketika sang ayah telah tiada, sementara anak-anaknya belum dapat menggantikan secara penuh pemenuhan kebutuhan ekonomi. Bagi mereka yang mengenal kisah ibunda Hajar yang kesana kemari mencari air untuk anaknya, juga mungkin tersentuh dengan lagu ini.

Menyayangi dengan Do’a

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً [الإسراء:24]

“Rahmati (Sayangi) lah keduanya, Sebagaimana menyayangi kami di waktu kecil”

Jika kita sadar rasa sayang dan materi kita tidak akan cukup membalas rasa sayang dan materi keduanya, maka berdo’a dan memohon agar diturunkan rahmat kepada keduanya adalah jawabannya. Sebab memang seandainya sang anak berbakti kepada kedua orang tuanya mulai ia lahir sampai meninggal dunia, masih belum cukup untuk membalas kebaikan keduannya.

Pada akhirnya memang kita akan selalu sadar tentang gap kualitas cinta anak dengan orang tuanya. “Cinta pada orang tua adalah hutang yang tak pernah mereka tagih, tapi juga tak pernah bisa kita lunasi.”

Categories: Uncategorized

Bag-5, Ibuku Sayang

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Kelima

Ibuku Sayang…

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

“Bagi seorang ibu, anaklah yang menjadi buah cinta”

Kalimat tersebut merupakan terjemahan dari salah satu kearifan lokal kita yang berbunyi “Tumrap wong wadon, anak kang dadi wohong asih”. Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan yang seolah-olah sembilan tahun. Begitu berat dan meletihkan. Ibu bersusah payah ketika melahirkanmu anaknya, bahkan hampir kehilangan nyawanya. Ibu menyusuimu dari dirinya, dan ia mengusir rasa kantuknya yang berat karena menjaga dirimu.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambahan, dan menyapinya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepadaKu engkau dikembalikan.” (Q.S. Lukman: 14)

Ibu mencuci kotoranmu dengan tangan kanannya, diutamakannya dirimu atas dirinya, serta atas makanannya.

Ibu menjadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Ibu memberikanmu semua kebaikan. Saat kamu sakit atau mengeluh tampaklah kesedihannya yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya. Ibu mengeluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya ada pilihan antara hidupmu dengan kematiannya, maka ibu akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras dan keinginan hati yang mantap.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan kamu kerap membalasnya dengan akhlaq yang tidak baik. Ibu selalu mendo’akanmu, baik sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibu membutuhkanmu di saat dia renta, kamu jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Kamu kenyang dalam keadaan dia lapar. Kamu puas dalam keadaan dia haus. Kamu mendahulukan berbuat baik kepada anakmu daripada ibumu.

Kamu melupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Rasanya berat bagimu memeliharanya padahal ia adalah urusan yang mudah. Kamu kira ibumu ada disisimu dengan umur yang panjang, padahal umurnya pendek. Kamu tinggalkan dirinya, padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Tuhan telah melarangmu berkata “aahh” dan Tuhan telah menghinamu dengan hinaan yang lembut. Kamu akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Sementara Tuhan juga akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari dirinya sebagai Tuhan Sekalian Alam

Mengandung sampai Menyapih

Tuhan menyenangi manusia yang berbuat baik kepada ibunya, begitupun penilaian masyarakat di bangsa kita, juga manusia secara umum. Maka tak heran jika tiga prioritas berbakti pertama adalah ibu, dalam sebuah dialog Rasul saw. dengan sahabat ra. yang sangat populer dikatakan:

(من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك، فكررها الرجل ثلاثاً والنبي صلى الله عليه وسلم يجيبه الإجابة نفسها، ثم قال: ثم أبوك)

“Kepada siapa kita lebih berhak berbakti? Nabi menjawab: ibumu, kemudian ditanya lagi sampai tiga kali, Nabi tetap menjawab ibumu, kemudian bapakmu.”

Menjadi anak yang shalih/shalihah adalah hadiah paling mahal bagi Ibu kita. Hadiah yang membuat ibu kita sangat beruntung, sebab ia akan mengisi hari-harinya hingga masa-masa tuanya dengan penuh ridho dari Tuhan. Tentu ibu juga akan merasa ringan jika hidup bersama anak-cucunya yang baik akhlaq-nya.

Categories: Uncategorized

Bag-4, Saat Orang Tua ‘Sepuh’

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Keempat

Saat Orang Tua ‘Sepuh’

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha (Semesta, 2009)

“usia sepuh orang tua kita adalah waktu emas kita untuk merawatnya dan membimbingnya agar menjadi manusia yang terbaik kondisi akhirnya.”

Menyisihkan Waktu Bersama Orang Tua

Sebagian orang tua kita mungkin sudah ‘sepuh’ atau berusia lanjut. Mereka benar-benar terlihat tua dan lemah. Pola pikirnya sudah kembali ke kondisi anak-anak. Daya ingatnya menurun. Rambutnya mulai memutih semua. Pandangan mata mengabur. Giginya mulai ompong. Kondisi mereka benar-benar menurun. Pada saat-saat lemah seperti inilah masa paling utama bagi anak untuk memberikan perhatian.

Perspektif ini sekaligus membatalkan konsep “Panti Jompo” yang melepaskan tanggung jawab pengasuhan kepada pihak lain. Panti jompo yang merupakan tempat pemeliharaan orang tua berusia lanjut (manula) sebenarnya bukan solusi. Orang tua kita bukan semata tanggung jawab negara, namun tanggung jawab sang anak. Dalam kacamata Tuhan, merawat orang tua saat berusia lanjut adalah kesempatan “emas”. Disinilah negara seharusnya dapat pula mengapresiasi peran aktif warga negara yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Sehingga memacu tumbuh suburnya anak-anak berbakti.

Mendampingi secara Spiritual

Pun jika mau dibandingkan, anak yang merawat orang tua saat usia lanjut tidak lebih berat dari saat orang tua merawat kita di waktu kecil. Keduanya membesarkan serta mendidik kita. Apalagi jika dibanding pengurbanan ibu saat dirinya mengandung dan menyusui. Ketika orang tua mengiringi perkembangan anak, keduanya mendo’akan anak agar menjadi anak yang sholeh, sukses di dunia dan bahagia di akhirat. Maka bagaimanapun keadaannya, bodoh, kasar, berbeda agama, atau jahat kepada kita, kedudukan keduanya tetaplah sebagai orang tua.

Dipelihara oleh sang anak di masa usia lanjut tentu sangat menyenangkan hati. Terlebih ditemani selalu oleh anak-cucu nya yang sholih/sholihah. Hari-harinya hingga kematiannya diisi dengan kebaikan. Maka itulah sisi terpenting yang harus didampingi adalah sisi spiritual orang tua kita. Mereka yang sudah semakin tua, haruslah semakin intens dikuatkan orientasi akhiratnya serta dijaga ‘ibadahnya. Bukanlah hal yang terlambat untuk memulai jika orang tua kita baru mulai sadar akan pentingnya belajar agama, disiplin beribadah atau menjalankan beberapa perintah agama. Tugas seorang anaklah untuk membimbing mereka kepada cara yang tepat dalam kehidupan ini.

Dukungan Moril untuk Produktif di Masa Tua

Kita tentu juga sangat bahagia bahwa sekarang mulai tumbuh beberapa institusi yang memberdayakan para manula yang berasal dari keluarga yang sudah mapan. Mereka para manula tersebut terlibat dalam beberapa aktivitas seperti mengisi training, berbagi pengalaman profesional mereka, mengikuti aktivitas keagamaan dan menyumbang donasi untuk kegiatan sosial. Bentuk berbakti anak adalah dengan mendukung secara moril terhadap aktivitas para manula yang demikian. Sehingga masa tua mereka dapat menginspirasi generasi pelanjutnya.

Merawat, Menghindari Laknat

Jika merawat orang tua di usia senja mengundang kecintaan para ‘penduduk langit’. Maka jelas durhaka akan mengundang laknat dari ‘penduduk langit’. Ada seseorang yang yang dilaknat oleh malaikat Jibril dan diamini oleh Rasulullah saw., dengan sabdanya:

(رغم أنفه، ثم رغم أنفه، ثم رغم أنفه -من هو هذا؟

- قال: من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما ثم لم يدخل الجنة) رواه مسلم

“Sangat hina! sangat hina! sangat hina!” kemudian ditanyakan “siapa yang termasuk orang yang hina”? Ia menjawab: adalah seseorang yang salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut kemudian (karena durhaka) ia tidak masuk surga. (H.R. Muslim)

Categories: Uncategorized

Bag-3, Mata Air Manfa’at

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Ketiga

Mata Air Manfa’at

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

“Menunda berbakti, lebih dari sekedar kelalaian terhadap kewajiban, tapi juga kedunguan jiwa, karena menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan manfa’at!”

Alangkah ruginya mereka yang menunda untuk berbakti. Selain terhitung mengabaikan kewajiban, sesungguhnya juga menghilangkan kesempatan untuk mendapat berjuta bahkan manfaat tak ternilai. Banyak diantara kita tidak sadar atau lupa akan manfaat yang sangat besar dan dampak dari perbuatan baik anak kepada orang tua.

1. Syarat Pembuka Kesuksesan

“Barangsiapa yang bersyukur kepada Allah akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua Ibu Bapaknya, tidak akan diterima syukur kepada-Nya”

(Imam Adz Dzahabi)

Berbakti pada orang tua memang merupakan wilayah yang sangat jauh dari popularitas. Dalam banyak hal, bila kita berbuat baik atau burukpun, tidak banyak orang yang tahu. Sebab sebagian besar interaksi kita berlangsung di dalam rumah, bukan di wilayah publik. Sementara, menjadi sukses itu kerapkali diukur dengan standard-standard publik. Makanya kemudian, orang lebih cenderung menilai sukses dengan capaian kehidupan publiknya, tanpa peduli dengan keburukan interaksinya dengan orang tua. Padahal sesukses apapun yang kita bangun dalam kehidupan diluar sana, itu semua tiada artinya jika kita tidak mengapresiasi kedua orang yang telah menjadi “sebab-perantara” kelahiran diri kita.

Dengan demikian, segala langkah haruslah selalu diiringi langkah berbakti di awal tahapnya. Baik dalam sikap, ucapan, do’a maupun perbuatan, kita perlu selalu mengawali kehidupan dan aktivitas kita setiap hari dengan berbakti. Sebaliknya, segala aktivitas yang tidak dimulai atau diiringi aktivitas berbakti biasanya lebih tersendat dan menyempitkan keberhasilan di ujung proses.

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “wahai tuhanku sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil. (Q.S. al-Isra’: 24)

Ajakan untuk mengingat kasih sayang orang tua kepada anak di waktu kecil adalah ajakan untuk menyadari sebuah momen emosional yang tidak bisa dibayar. Ia bahkan tidak bisa dibayangkan oleh anak kecuali dengan merasakannya sendiri saat mereka menjadi orang tua.

2. Restu Orang Tua

Jika kita percaya bahwa Tuhan adalah penentu segala nasib kita. Maka kita juga harus percaya bahwa restu orang tua juga sama powerfull-nya dengan restu Tuhan tersebut. Sebab “ridho Tuhan tergantung kepada ridho orang tua, murka Tuhan tergantung kepada murka orang tua”. Bagaimanapun kondisi mereka, kita ini bukan apa-apa dan siapa-siapa tanpa mereka. Sebab itulah banyak kesuksesan atau kegagalan sebuah urusan dalam hidup seseorang, entah di awal, dalam proses, maupun akhirnya, terjadi karena ada tidaknya restu orang tua.

Rasulullah saw. bersabda:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : رضا الله في رضا الوالدين وسخط الله في سخط الوالددين

Dari Abdullah bin Umar ra. Ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua. (H.R. Al-Hakim)

3. Memudahkan yang Sulit

Hukum kehidupan kita selalu memudahkan orang yang bekerja untuk meringankan beban sesama. Di bangsa kita, ada contoh budaya “gotong royong” atau ekspresi karakter dalam sebuah kalimat “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Berbakti pada orang tua juga sebenarnya balas budi atas berat dan meletihkannya mengurus kita di waktu kecil.

Tentu semua itu tidak akan pernah terbalas. Bergadangnya kita, tidak akan pernah sebanding dengan bergadangnya orang tua kita. Pengurbanan kita, tidak akan pernah sebanding dengan pengurbanan orang tua kita. Kerja memudahkan kesulitan orang tua adalah kerja memudahkan yang paling utama. Sebelum memudahkan kesulitan istri, anak, atau orang lain. Alangkah baik jika semuanya dapat berjalan secara bersamaan, namun kerja memudahkan kesulitan orang tua adalah yang paling menyebabkan diri kita dilihat lebih “unggul” di mata Tuhan.

Kita tahu keunggulan di mata Tuhan, dengan berbakti, akan bermanfaat dalam seleksi. Misalnya, jika Tuhan harus memilih mana orang yang harus didahulukan rahmatnya, maka Ia akan lebih memilih anak berbakti dibandingkan orang lain yang sama-sama bekerja keras namun durhaka kepada orang tuanya. Sebaliknya, jika Tuhan harus memilih mana orang yang harus didahulukan azab-nya, maka Ia akan lebih memilih anak durhaka untuk mendapatkan kesempatan terlebih dahulu.

4. Kesuksesan dan Panjang Umur

“Siapa yang ingin diluaskan rejekinya dan dipanjangkan umurnya,

hendaklah menjaga hubungan baik!” (HR. Bukhari)

Siapa yang suka kesuksesan dan panjang umur, tentu perlu terus menambah baik hubungannya dengan orang lain. Kenapa? Sebab setiap kesuksesan tidak akan datang begitu saja. Tidak ada kesuksesan yang Tuhan berikan kepada kita dengan cara menjatuhkannya dari langit! Semua kesuksesan Tuhan berikan melalui perantara. Maka membangun hubungan baik dengan orang lain sama dengan memudahkan tersampaikannya kesuksan tersebut.

Maka siapa lagi orang yang paling dekat dengan diri kita selain kedua orang tua kita? Maka, “bermasalah” dengan orang tua sama saja dengan menyumbat pintu pertama peluang datangnya kesuksesan kita. Padahal orang tua itu, jika memiliki sesuatu pastilah yang pertama kali mereka pikirkan adalah membagi kepada anaknya.

Apalagi efek selanjutnya jika kita tidak memperbaiki hubungan kita dengan orang tua? Itu artinya kita juga akan memendekkan kisah hidup kita. Sebab kisah ‘harum’ tentang diri kita tidak akan dihitung oleh Tuhan selama kita masih durhaka. Banyak orang hidup bertahun-tahun, namun hanya berakhir dengan kisah tiga baris di batu nisan-nya.

“Nama:…..

Lahir:…..

Wafat:…..”

Sebagian manusia lain bahkan berakhir dengan lebih parah, kematiannya meninggalkan “bau busuk” bagi mereka yang ditinggalkannya.

Hanya mereka yang mendapatkan kesuksesan sejati. Kemudian kisah harum mereka tetap “hidup” setelah kehidupannya di dunia berakhir. Kisah harum tersebut tetap tercium dan menginspirasi mereka yang masih hidup. Jadi, isi aktivitas selama hidupnya yang bermanfaat seakan “menambah” umurnya. Seperti nabi Muhammad saw., yang oleh Michael H. Hart dicantumkan sebagai orang no.1 yang paling berpengaruh dalam sejarah kehidupan manusia. Beliau saw. telah meninggal belasan abad yang lalu, namun pengaruhnya tetap menggerakkan mereka yang hidup di masa sekarang.

Categories: Uncategorized

Bag-2b, Jebakan Ke’durhaka’an

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

lanjutan… Bagian kedua, Jebakan Ke’durhaka’an

tulisan ini diambil dari Buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta,2009)

4. Buruk Rupa vs Wajah Merendah

Body language (bahasa tubuh) kerap berbicara lebih lugas dari bahasa lisan. Terkadang ekspresi wajah berbicara lebih akurat dari ungkapan perasan. Wajah “masam”, “cemberut”, “memicingkan mata”, dan berbagai ekspresi tubuh lain yang dapat dimaknai sebagai kondisi meninggikan hati, adalah hal yang dapat membuat orang tua merasa direndahkan.“tidak termasuk berbakti kepada orang tua, anak yang membelalakkan matanya karena marah.” (HR. Thabrani)

Bersikap merendah di hadapan orang tua dengan segala ekspresi perlu dilatih. Sehingga orang tua merasa ditinggikan. Memang ada permasalahan ketika ada perbedaan “budaya dan kebiasaan”, misalnya antara generasi orang tua dengan generasi anak muda. Permasalahan juga bisa ditemui jika ada perbedaan latar belakang, misalnya bagi pengantin baru, antara menantu dengan mertua, atau antara anggota masyarakat. Namun esensinya adalah upaya untuk selalu menghargai orang tua, meski segala miss-communication masih menjadi kendala.

5. Tuan-Nyonya dan Nge-Bossy

Ibu bapak kita adalah komandan bagi kita, harapan mereka (wish) adalah perintah (command) bagi kita. Selama hal-hal yang diinginkannya dan permintaan keduanya tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Tuhan, maka wajib bagi kita untuk mematuhinya. Maka merupakan hal yang berkebalikan jika yang kita lakukan justru menjadi “tuan” atau “nyonya” bagi mereka. Apalagi bertindak seperti “boss” terhadap pelayannya.

Memerintah orang tua, misalnya mengepel, menyapu, mencuci atau menyiapkan makanan. Pekerjaan tersebut tidak pantas apalagi jika mereka sudah tua atau lemah. Jika “sang ibu” melakukan pekerjaan tersebut dengan kemauannya sendiri maka tidak mengapa dan karena itu anak harus berterima kasih. Namun jika karena paksaan dengan kata-kata yang kasar apalagi disertai penyiksaan fisik, maka hal ini sangat tidak layak. Seseorang yang melakukannya tidak hanya mendapatkan reputasi buruk, namun juga Tuhan tidak akan segan memberikan hukuman yang bersifat langsung di kehidupan anak ini.

Dalam kehidupan antar sesama manusia saja, boss-boss yang kasar, arogan, dan berlaku semaunya merupakan hal-hal yang dibenci dan merupakan kezaliman. Apalagi dalam hubungan antara anak terhadap orang tuanya.

6. Tebar Gossip

Menyebarkan sebuah berita buruk tentang orang lain, jika ‘benar’ merupakan perilaku “menggunjing” yang dilarang secara etika serta merendahkan martabat orang yang menceritakannya (di cap “biang gossip), jika ‘salah’ berarti ia adalah fitnah (black campaign) yang dapat mencemarkan nama baik dari seseorang dan itu dalam negara seperti Indonesia dapat dianggap melanggar hukum.

Tentu saja bukan merupakan bagian dari gossip jika tujuannya untuk memecahkan solusi: baik untuk mendatangkan kebaikan yang lebih banyak maupun menghilangkan keburukan. Artinya berita buruk hanya diperkenankan kepada orang-orang yang akan terlibat memecahkan solusi secara kongkrit, bukan sekedar aktivitas memuaskan dahaga mulut telinga yang membicarakan dan mendengar “berita miring” tentang orang lain.

Jika gossip itu dilakukan oleh anak terhadap orang tua, tentu merupakan hal yang sangat aneh dan tercela. Tiada orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan tuduhan buruk. Mereka bahkan selalu membanggakan dan menceritakan kebaikan-kebaikan anak di hadapan teman-temannya. Kalaupun ada, tidak bisa menjadi alasan bagi anak yang telah dilahirkan dari rahim ibunya dan jelas merupakan darah langsung dari bapaknya untuk merendahkan bapak ibunya sendiri. Anak yang demikian butuh melatih jiwanya agar menjadi dewasa dalam berbicara. Sebab meledakkan kekecewaannya terhadap orang tua dengan cara yang tidak solutif, hanyalah bentuk dari lemahnya pengendalian diri.

7. Merusak Rumah Orang Tua

Orang tua tentu selalu welcome (terbuka) dengan siapapun yang dibawa oleh anaknya. Bahkan karena saking sayangnya, sebagian orang tua kadang enggan menegur atau memarahi anaknya yang sudah melampaui batas. Disinilah dia sensitivitas juga diperlukan. Baik sensitivitas terhadap nilai-nilai agama, budaya, maupun nilai-nilai yang dimiliki orang tua kita. Apa sebenarnya yang disukai dan dibenci oleh agama, budaya, maupun orang tua kita. Pengetahuan akan itu akan membantu kita untuk menghindari perilaku “merusak”, dengan tidak membawa sesuatu yang dibenci ke dalam rumah orang tua kita.

Tentu saja larangan membawa sesuatu dari “luar” yang dibenci orang tua ke dalam rumah, bukan berarti hal tersebut boleh dilakukan di luar rumah. Inti pesannya, melakukannya di dalam rumah berarti melipatgandakan nilai keburukannya. Tentu saja hal yang paling baik adalah berupaya mempertimbangkan keburukan tersebut untuk ditinggalkan, mengikisnya perlahan-lahan atau total meninggalkannya sebagai masa lalu yang tak perlu dilirik lagi.

Sebenarnya hal lain yang juga menjadi faktor adalah bagaimana orang tua itu sendiri membangun nilai. Jika rumah tersebut memang biasa diisi dengan segala hal-hal yang dilarang oleh agama, tabu secara budaya, dan dibenci oleh masyarakat luas maka tentu saja ini menggambarkan kelemahan faktor bapak sebagai kepala rumah tangga dan ibu sebagai “institusi” pendidikan bagi anak-anaknya. Sehingga dalam rumah tangga yang rapuh semacam ini anak yang membawa teman-teman yang beraktivitas negatif maupun membawa barang-barang yang amoral, dianggap biasa-biasa saja.

8. Menomorduakan, Setelah Istri dan Anak

Dalam kehidupan kita, ada orang-orang yang tega mengusir orang tuanya demi kemauan istrinya. Mendahulukan kepatuhan terhadap istri daripada orang tua juga merupakan hal nista. Kemauan, perintah dan larangan ibu-bapak kita hanya dapat dinomorduakan oleh kemauan, perintah dan larangan Tuhan.

Disinilah kita diajak mengerti perkataan bijak dalam agama:

عن ابن عمرو رضي الله عنه قال : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال :

الدنيا متاع وخير متاعها المرأة الصالحة (رواه مسلم)

Dari Ibn Amru ra. Dunia ini adalah perhiasan, dan perhiasan terbaik adalah wanita sholihah.”

Diantara pengertian wanita sholihah disini berarti wanita yang patuh kepada Tuhannya dan berbakti pada orang tua. Wanita yang demikian akan menjadi istri yang justru membantu bakti pada orang tua. Membimbing mereka dalam kehidupan yang lebih baik.

Begitupun anak. Bagi orang tua kita, kadang mendapatkan cucu yang perilakunya baik (sholih dan sholihah) dapat menjadi perenungan tersendiri bagi sang kakek-nenek. Banyak terjadi, sang kakek nenek mulai punya tekad kuat bertaubat dari kebiasaan-kebiasaan buruknya setelah melihat cucu-cucu mereka yang baik-baik. Artinya, peran orang tua justru mendidik generasi anak-anaknya menjadi generasi yang lebih baik dari dirinya. Bukan malah memanjakannya dengan cita-cita, motivasi, dan perilaku yang lebih rendah dari orang tuanya. Apalagi dengan memberi contoh mendahulukan anak-anak kita dari ibu bapak kita sendiri, ketika dibutuhkan dalam waktu yang bersamaan.

Kita sebagai orang tua justru dapat memberikan edukasi kepada anak-anak kita tentang pentingnya mengutamakan orang tua dibandingkan terhadap diri mereka. Sehingga kelak, anak kita juga akan menempatkan kita sebagai orang tua mereka dalam posisi yang prioritas.

9. Gengsi mengakui Orang Tua

Ketika status sosial meningkat, diantara godaannya adalah “mengakui” orang-orang yang berada bersama dirinya pada kehidupan “masa lalu”nya. Meski penyakit ini bukan penyakit “Orang Kaya Baru” (OKB), namun “gagap budaya” terhadap kehidupan baru yang meningkat memang dapat membuat merasa ‘malu’ untuk tetap bergaul dengan orang-orang miskin yang selama ini hidup bersamanya. Bisa jadi ini karena perasaan khawatir eksistensinya sebagai orang kaya luntur jika bergaul dengan orang miskin. Begitupun para pejabat yang telah meningkat “kasta”nya, enggan bergaul dengan teman lamanya yang masih di tingkatan yang lebih rendah.

Amat aneh kemudian jika sebagian anak-anak muda sekarang juga terjangkit penyakit ini. Mereka yang merasa dirinya modist enggan berjalan bersama ibu bapaknya yang terlihat bergaya konvensional alias kuno. Hanya karena alasan gaya berpakaian, anak-anak ini berjalan bersama namun menjaga jarak dari orang tua mereka. Tidak diragukan lagi, pasti orang tua merasa terganggu dengan perilaku anak terhadapnya ini. Maka ketika perasaan orang tua terganggu maka sudah cukup untuk mengatakan perbuatan sang anak adalah durhaka.

Seorang anak laki-laki yang enggan mengakui orang tuanya, karena hendak melamar seorang gadis kaya. Begitupula seorang menantu yang malu dengan kondisi mertuanya yang miskin. Sebenarnya awal semua sikap ini adalah arogansi terhadap berbagai aksesoris materialis duniawi, hingga mengorbankan kepatutan sikap kita terhadap orang tua.

Dampak Sosial Kedurhakaan

Masyarakat yang di dalamnya terdapat banyak anak durhaka, sangat mungkin akan menjadi masyarakat yang buruk.

Sifat durhaka yang ada pada seseorang tentu akan terbawa pada ranah publik. Sehingga, masyarakat yang diisi oleh anak-anak durhaka sangat potensial menjadi masyarakat berbudaya caci-maki dan kekerasan (1); masyarakat rendah kesadaran hukumnya (2); masyarakat individualis yang tidak peka sosial (3); masyarakat keras, mencemaskan dan menegangkan (4); masyarakat pemaksa tukang perintah (5); masyarakat tukang gossip (6), masyarakat yang rusak rumah tangganya (7), masyarakat pemuda yang tidak menghargai orang tua (8), dan masyarakat yang lupa diri (9).

Awalnya: Kebencian

Molo Litok Aek, Tu Julu Do Luluan

“Jika air keruh, penyebabnya dicari ke Hulu.”

Segala kedurhakaan berawal dari kebencian. Maka setiap anak harus melatih jiwanya agar tidak benci kepada orang tuanya. Kalaupun dalam beberapa saat menjadi benci adalah manusiawi, misalnya karena perkataan, tindakan atau perilaku tertentu, maka prinsip dasar “tidak boleh membenci” harusnya dapat menjadikan kita cepat kembali pada kondisi normal. Kedurhakaan adalah manifestasi dari emosi negatif kebencian. Hilangkan kebencian, kita tidak pantas membenci mereka. Perilaku buruknya adalah objek yang menjadi sasaran untuk kita berupaya memperbaikinya atau mendo’akannya.

Categories: Uncategorized

Bag-2a, Jebakan Ke’Durhaka’an

September 19, 2009 bersilaturahim Leave a comment

Bagian Kedua

Jebakan Ke’Durhaka’an

tulisan ini diambil dari buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

“Tanpa sadar, bisa jadi kita telah melakukan berbagai kedurhakaan..

Sebab mendasarnya karena kita tidak memahami apa itu ‘durhaka’?!”

Durhaka adalah “gelar” yang terendah dalam sejarah kemanusiaan, lawan sifat perilaku dari berbakti. Secara sederhana, kita dapat mengetahuinya dengan merenungkan dan memikirkan apa-apa saja yang “mengganggu” kenyamanan perasaan orang tua. Beberapa hal yang dianggap terkategori durhaka adalah pembuat pembuat sakit hati (1), seniman alasan (2), kikir (3), buruk rupa (4), bergaya nge-boss (5), menebar gossip (6), merusak rumah (7), menomorduakan setelah istri dan anak (8), dan gengsi mengakui (9). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

  1. 1. Pembuat sakit hati vs Penyejuk Hati

Jika durhaka adalah membuat gangguan. Maka gangguan tersebut bisa datang dari ucapan maupun perbuatan, seperti celaan atau pukulan fisik terhadap orang tua.

Misalnya statement “engkau bukanlah orang tua ku lagi!” tetaplah tidak merubah status anak dan orang tua, ia hanya menjadikan anak terjebak dalam kedurhakaan. Bisa saja situasi emosional anak mendorong kalimat ini keluar. Bukan tidak mungkin keluar dari seorang anak yang biasanya berbakti, namun dalam sebuah kasus misalnya ia melihat ayahnya melakukan seseuatu perbuatan diluar standard moral yang ada. Kecintaan kita pada ayah yang sedang melenceng itu terkadang muncul dalam kalimat yang kurang tepat. Maka, jika pernah terlepas dari lisan kita perkataan tersebut hendaknya segera menyadarkan kesalahan manusiawi tersebut dan memperbaiki kondisi kejiwaan kita menjadi normal kembali.

Sangat banyak kisah tentang penyakit rahim (mio, dll.) yang diderita seorang anak, karena wanita tersebut memiliki permasalahan dengan ibunya. Dimana setelah sekian dokter dan rumah sakit menyarankan operasi, penyakit tersebut kemudian dapat sembuh hanya dengan cara sederhana. Memperbaiki hubungan baik anak dengan orang tuanya, khususnya ibunya, dengan meminta ma’af dan bertaubat dari perilaku kasarnya. Sederhana sekali.

Apa yang kita inginkan sebenarnya kita sebagai anak menjadi “penyejuk hati” bagi ibu-bapak. Selalu menurut perkataan keduanya, serta berperilaku lembut terhadap mereka. Menjalani segala cita-cita kesuksesan yang keduanya inginkan kepada kita. Kemudian memberikannya kebanggaan dengan menjadi bermanfaat bagi orang banyak dan menjadi pribadi yang bersyukur kepada Tuhan.

  1. 2. Seniman Alasan vs Respon Kilat

Berkata “ah” dan tidak memenuhi panggilan orang tua terkesan remeh. Padahal ia juga merupakan perkataan yang dapat membuat perasaan “tidak nyaman”. Apalagi jika orang tua melakukan panggilan untuk sebuah kebutuhan penting dan mendesak, namun ditolak anak dengan kasar. Terkadang memang kita tidak sengaja mengatakan “ah” atau menolak perintahnya dengan berbagai alasan. Maka semoga Tuhan juga mengampuni kekhilafan kita. Namun saat keengganan menyambut panggilan atau permintaan orang tua sudah menjadi habit (kebiasaan), hal ini perlu diperhatikan.

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (Q.S. Al-Isra’: 23)

Jangan sampai kebiasaan buruk tersebut menjadi gen yang terwariskan kepada anak-cucu kita. Sebaliknya, jika kita masih memiliki kebiasaan itu, maka kita perlu berfikir untuk mengurangi bahkan menghilangkannya. Sehingga kita dapat melahirkan generasi pelanjut yang lebih baik dari kita. Sekaligus solusi bagi masa depan kehidupan selanjutnya dengan melahirkan dan mendidik generasi masa depan yang punya jiwa “respon kilat” terhadap panggilan ibu bapak, juga “respon kilat” terhadap panggilan kebajikan lainnya.

  1. 3. Kikir vs Dermawan

Alangkah berbahaya jika generasi muda pada sebuah masyarakat mulai memiliki trend tidak pedul dengan orang tua mereka. Bahkan, jika tidak merasa tabu untuk abai pada keterbatasan orang tua sendiri yang sangat membutuhkan. Seandainya memberi nafkah pun dilakukan dengan penuh perhitungan.

Kita harus ingat bahwa sejatinya harta anak itu milik orang tuanya. Sebagaimana di waktu kecil, orang tua menjadikan hartanya seakan milik anak-anaknya. Seakan apapun kebutuhannya adalah perintah pemenuhan bagi orang tua. Terutama segala kebutuhan makanan, pakaian dan segala kenyamanan saat diri kita masih tidak berdaya dan sangat rapuh. Demikianlah status harta anak setelah diri kita berdaya atau memiliki penghasilan. Harta kita bukan milik kita sendiri. Ada hak ibu-bapak kita di dalamnya untuk dibantu. Kewajiban menafkahkan juga bagi anak laki-laki, selain kepada istri dan anak-anaknya, pertama sekali harus dipastikan kebutuhan orang tuanya tercukupi kebutuhan primernya.

Maka, motivasi berbakti seharusnya dapat mendorong terlahirnya semakin banyak keluarga sejahtera. Masyarakat muslim misalnya, mengenal kewajiban setelah kebutuhan diri dan keluarga tercukupi, yaitu kewajiban membayar zakat. Mereka yang memiliki keluasan rizqi juga dianjurkan ber-infaq atau ber-sedekah secara insidental. Maka konsep ini dapat terwujudnya korelasi antara kesuksesan ekonomi keluarga dengan manfaat yang tercipta di masyarakat yang lebih luas.

Dalam kehidupan bernegara kita, pajaklah salah satu “darah” pembangunan dan penopang subsidi fasilitas umum. Bagi negara, membuka lapangan kerja dan memperbaiki situasi ekonomi yang kondusif bagi warga negara berarti memudahkan setiap anak untuk berbakti pada orang tuanya.

Demikianlah Islam memandang harta yang merupakan perhiasan titipan. Ia adalah nikmat yang harus dinikmati secara santun, proporsional, dan tidak eksploitatif (Qs. Ali Imran: 14), namun ia juga sekaligus berfungsi sebagai ujian keimanan (Qs. Al-Anfaal: 28), juga peluang untuk meningkatkan produktivitas kebajikan (Qs. At-Taubah: 41 & 60; Ali Imran: 133).

Categories: Uncategorized

Bag-1, Wahai Anak Manusia!

April 28, 2009 bersilaturahim 1 comment

Bagian Pertama

Wahai Anak Manusia!

tulisan ini diambil dari buku “Berbaktilah!” karya Arya Sandhiyudha As (Semesta, 2009)

“Sebelum menjadi apapun…

setiap kita adalah hamba Tuhan dan anak kedua orang tua kita”

Statement di atas berangkat dari dua fakta yang berlaku pada setiap manusia, tanpa terkecuali! Pertama, tidak mungkin seorang manusia ada tanpa ada Tuhan yang menciptakannya. Kedua, tidak mungkin diri seorang manusia lahir kecuali karena ia adalah anak dari sepasang manusia: ibu dan bapak.

Beberapa landasannya adalah: Pertama, dalam perspektif agama, terdapat di As-Sajadah: 8-9

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ، ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ ، ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.

Dan Dialah (Allah) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudia Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani), kemudian Dia menyempurnakannya dan menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.

Dua fakta ini berlaku kepada seluruh manusia secara universal, lintas waktu dan tempat. Sebab itulah ada pesan universal kepada manusia seluruhnya:

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا ….

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak….(Q.S. An-Nisa’: 36)

Kita diminta bersyukur dengan tidak abai pada Tuhan dan orang tua kita. Artinya, hubungan anak dengan ibu bapaknya adalah standard syukur paling pertama dan utama dalam kemanusiaan kita. Mulia atau hina nya seseorang secara kemanusiaan diukur dari berbakti atau durhaka nya seseorang anak kepada kedua orang tuanya. Apalagi mereka yang durhaka kepada orang tuanya, berbuat zalim kepada orang tua yang lain, serta menyulitkan orang untuk berbakti.

Kedua, bagi anak Indonesia kita mengenal dalam negara kita dua nilai serupa, penghambaan terhadap Tuhan dan berbakti terhadap orang tua, dalam banyak pesan. Diantaranya dalam Pancasila. Dalam kandungan dua sila dasar negara kita. Secara normatif para founding fathers (pendiri bangsa) mengingatkan kedua hal tersebut, bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” merupakan dua hal yang paling mendasar dalam kebangsaan kita. Adil adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya” dan beradab adalah “melaksanakan sesuatu dengan cara terbaik”.

Dalam kaitannya dengan praktik berbakti pada orang tua, seorang anak yang dapat menempatkan diri dan bersikap mulia kepada orang tuanya akan mendapatkan reward sosial dari lingkungannya. Mirisnya, alih-alih mengingat segala kebaikan kedua orang tuanya, banyak diantara kita sering mendengar perkataan seorang anak yang menisbatkan kegagalannya kepada orang tua mereka.

“Saya bernasib hancur begini, jelas karena bapak ibu saya membawa sial !”

Statement semacam ini jelas menunjukkan sikap yang sangat emosional dan tidak dewasa. Seakan orang tua sekedar tempat untuk melempar keburukan yang terjadi. Sementara kondisi “sukses” yang kita dapatkan tak mampu membuat kita berterima kasih kepada mereka.

“Saya sukses karena kerja keras saya, bukan karena kedua orang tua saya!”

Tabiat melupakan kedua orang tua saat sukses, dan melempar keburukan saat gagal adalah budaya kita yang direkam dalam sebuah pesan cerita rakyat.

Dalam kisah ‘Malin Kundang’ dalam cerita rakyat tentulah menunjukkan bahwa berbakti merupakan nilai dasar manusia Indonesia. Kebencian terhadap mereka yang durhaka sampai disimbolkan dengan kisah akhir Malin yang membatu. Tidak ada nilai penghargaan sedikitpun kepada yang durhaka, meski sang Malin gagah tampan dan sukses sebagai saudagar. Tak heran jika dalam budaya kita, tokoh atau figur publik sehebat apapun, dapat tiba-tiba jatuh reputasi dan karirnya ketika ia berlaku tak pantas pada kedua orang tuanya. “Sanksi” atas kedurhakaan memang tidak pernah menunggu hingga kita mati. Ia menghampiri lebih cepat dan menghukum lebih dahsyat.

Maka, berbakti kepada kedua orang tua baik dalam agama maupun bangsa kita telah dianggap sebagai kisah fundamental pertama dalam hidup. Ia kewajiban yang tak hilang dengan kematian kedua orang tua. Sementara sebagai anak, meski diri kita meninggal kita tetaplah anak orang tua kita. Paling tidak dalam nisan kita tertulis “….. bin/binti …..” yang menunjukkan bahwa kita adalah anak dari “….”

Jelasnya posisi “berbakti” dalam kehidupan manusia, melahirkan sebuah kesimpulan sederhana yang sangat penting untuk dicamkan:

“sikap kepada orang tua adalah parameter kemanusiaan. Jika baik interaksi anak dengan orang tuanya, maka baiklah kualitas kemanusiaannya. Begitupun sebaliknya, jika buruk kualitas berbaktinya maka tiada nilanya segala kesuksesan diri di kehidupan lainnya.”

Categories: Uncategorized